Berkata Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,
فَالْمُهِمُّ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ الْعَاقِلِ أَنْ يُفَكِّرَ فِي أَصْحَابِهِ: هَلْ هُمْ أَصْحَابُ سُوءٍ؟ فَلْيَبْتَعِدْ عَنْهُمْ لِأَنَّهُمْ أَشَدُّ عَدَاءً مِنَ الْجَرَبِ، أَوْ هُمْ أَصْحَابُ خَيْرٍ: يَأْمُرُونَهُ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَوْنَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَيَفْتَحُونَ لَهُ أَبْوَابَ الْخَيْرِ؛ فَعَلَيْهِ بِهِمْ.
“Intinya, orang yang berakal wajib memperhatikan teman-temannya: apakah mereka teman-teman yang buruk? Jika demikian, hendaklah ia menjauhi mereka, sebab pengaruh buruk mereka lebih mudah menular daripada penyakit kudis. Ataukah mereka teman-teman yang baik, yang mengajaknya kepada kebaikan, melarangnya dari kemungkaran, serta membukakan pintu-pintu kebaikan baginya? Jika demikian, hendaklah ia senantiasa bergaul dengan mereka.”
(Al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1/359)
