Mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi keinginannya, tetapi membimbingnya agar mengenal adab, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan tumbuh di atas ketaatan kepada Allah. Jangan sampai rasa sayang yang keliru justru menjadi sebab kebinasaan mereka di dunia dan akhirat.
Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah,
وَكَمْ مِمَّنْ أَشْقَىٰ وَلَدَهُ وَفِلْذَةَ كَبِدِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِإِهْمَالِهِ وَتَرْكِ تَأْدِيبِهِ، وَإِعَانَتِهِ لَهُ عَلَىٰ شَهَوَاتِهِ، وَيَزْعُمُ أَنَّهُ يُكْرِمُهُ وَقَدْ أَهَانَهُ، وَأَنَّهُ يَرْحَمُهُ وَقَدْ ظَلَمَهُ وَحَرَمَهُ، فَفَاتَهُ انْتِفَاعُهُ بِوَلَدِهِ، وَفَوَّتَ عَلَيْهِ حَظَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Betapa banyak orang yang malah membuat anaknya, buah hatinya sengsara di dunia dan akhirat karena dia mengabaikannya dan tidak mendidiknya, dan malah membantunya dalam mengikuti hawa nafsunya. Dia menganggap ia telah memuliakan anaknya, padahal dia telah menghinakannya. Dia pikir dia telah merahmatinya (memberikan kasih sayang), padahal dia telah mendzaliminya dan membuat anaknya terharamkan dari kebaikan, akhirnya dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari anaknya, baik di dunia maupun akhirat.” (Tuhfatul Maudud, 351)
