Alhamdulillah, telah terlaksana dengan baik kegiatan Pelatihan Guru pada hari Rabu, 26 Agustus 2026, dengan tema “Strategi Mengkondisikan Anak di Sekolah”.
Berikut beberapa faidah dan poin penting yang dapat diambil dari kegiatan tersebut:
- PENDIDIKAN HARUS DIIRINGI DENGAN DOA
- Sebaik apa pun metode, cara, maupun kurikulum yang digunakan dalam mendidik anak, semuanya harus tetap diiringi dengan doa.
- Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Sudah berapa banyak kita mendoakan anak didik kita?
- Doakan mereka, baik secara umum maupun secara khusus. Doa juga dapat dituliskan ketika memberikan penilaian pada buku tugas atau hasil belajar siswa.
- Beberapa contoh doa yang dapat dituliskan:
- زَادَكَ اللهُ عِلْمًا — Zādakallāhu ‘ilman — Semoga Allah menambahkan ilmu kepadamu.
- Semoga Allah memperbaiki akhlakmu.
- Semoga Allah memberikanmu hidayah.
- Semoga Allah memudahkanmu dalam belajar.
- Dengan demikian, penilaian tidak hanya menjadi angka atau koreksi, tetapi juga menjadi doa dan bentuk perhatian seorang guru kepada muridnya.
- GURU HARUS MENJADI TELADAN BAGI ANAK DIDIKNYA
- Anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan contohkan dari gurunya.
- Oleh karena itu, guru perlu membiasakan diri memberikan teladan dalam hal-hal sederhana, misalnya:
- Membaca doa dengan suara yang terdengar oleh anak didik ketika makan.
- Membaca doa ketika masuk dan keluar WC.
- Membiasakan ucapan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengucapkan “terima kasih” kepada anak didik ketika mereka memberikan koreksi atau mengingatkan sesuatu.
- Keteladanan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengaruh yang besar kepada anak.
- MEMBUAT KESEPAKATAN KELAS (CLASSROOM AGREEMENT)
- Guru dan anak didik perlu membuat kesepakatan kelas yang jelas sejak awal.
- Kesepakatan tersebut dapat menjadi pedoman bersama mengenai:
- Sikap selama pembelajaran.
- Aturan dan batasan di dalam kelas.
- Hak dan kewajiban siswa.
- Konsekuensi apabila kesepakatan dilanggar.
- Dengan adanya kesepakatan yang dibuat dan disepakati bersama, ketika terjadi pelanggaran guru dapat memberikan teguran dengan lebih objektif.
- Anak didik juga tidak mudah memberikan alasan atau “ngeles”, karena sebelumnya mereka telah mengetahui dan menyepakati aturan tersebut.
- MENGGUNAKAN PENDEKATAN POSITIF KETIKA MENGHADAPI MASALAH
- Ketika menghadapi masalah dengan anak didik, utamakan pendekatan yang positif dan mendidik, bukan sekadar memberikan teguran.
- Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, antara lain:
- Jika seorang anak mulai mengganggu, guru dapat duduk atau berada di dekat anak tersebut agar perilakunya lebih terarah tanpa mengganggu anak-anak yang lain.
- Ketika melarang sesuatu, sampaikan alasan dan dalilnya.
- Ketika memerintahkan sesuatu, jelaskan pula alasan dan dalilnya.
- Dengan demikian, anak tidak hanya memahami bahwa sesuatu itu “boleh” atau “tidak boleh”, tetapi juga memahami alasan mengapa hal tersebut harus dilakukan atau dihindari.
- MEMAKSIMALKAN DAN MENGOPTIMALKAN POTENSI ANAK
- Setiap anak memiliki potensi, karakter, kemampuan, dan keunikan yang berbeda-beda.
- Tugas guru bukan hanya melihat kekurangan anak, tetapi juga menemukan dan mengembangkan potensi terbaik yang dimilikinya.
- Guru perlu memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya, memberikan apresiasi terhadap proses yang dilaluinya, serta membantu anak menemukan kelebihan dan potensi dirinya.
- Jangan hanya bertanya, “Apa kekurangan anak ini?”, tetapi juga tanyakan, “Apa potensi yang dapat kita kembangkan dari anak ini?”
- KESIMPULAN
Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang mendoakan, memberikan teladan, membimbing dengan pendekatan yang positif, membangun kebiasaan yang baik, dan membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya.
Guru yang baik mengajarkan dengan ilmu.
Guru yang hebat mengajarkan dengan keteladanan, kesabaran, dan doa.
